Senin, 24 Desember 2012

DAG DIG DUG !

JADI APA NANTINYA PENDIDIKAN 2013?
       Kurikulum di Indonesia pesat berkembang, mulai dari kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi, hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang belum tahu signifikansi hasil yang diperoleh. Sekarang dibuatlah Kurikulum baru yang rencananya akan keluar 2013 nanti. Rencana perubahan kurikulum yang akan menggantikan kurikulum sebelumnya, menuai banyak kritik. Sejak awal rencana perubahan ini digulirkan menuai pro kontra, mulai dari dihapusnya mata pelajaran Bahasa Inggris sampai dengan waktu penerapan yang terkesan dipaksakan.
           Menurut Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat tiga kelemahan dalam draft kurikulum 2013,
          Kelemahan pertama, kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis, kurikulum ini juga tidak didasarkan evaluasi dari kurikulum sebelumnya. Kedua kemendikbud tidak pernah mendengarkan aspirasi dari guru langsung dalam merumuskan 2013, dianggap semua memiliki kemampuan yang sama. Kelemahan yang ketiga, pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS denganenam mata pelajaran baru untuk jenjang sekolah dasar. Hal tersebut dinilai tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran mata pelajaran itu berbeda.
         Ganti kurikulum pastinya ganti buku juga, lembar kerja siswa pun tak ada, yang ada hanya buku panduan guru untuk mengajar peserta didik. Sebelumnya, Mendikbud Mohammad Nuh menjelaskan buku-buku pelajaran baru tidak boleh membebani masyarakat. Dalam kurikulum baru, buku ajar disiapkan Kemendikbud . hanya ada satu buku saja yang akan diajarkan sekolah. Padahal jika kita bisa amati seksama, guru-guru dan kepala sekolah yang notabene nya bekerja keras dalam menyesuaikan kurikulum lama, sekarang harus kembali memutar pikiran memusatkan perhatian kepada peserta didik mereka. Kutipan saya ambil dari dosen manajemen saya “ Sekolah Dasar perlu perhatian khusus, perlu adanya sosialisasi berlebih, jika sekolah dasar setiap harinya berjadwal tematik, senin tematik, selasa tematik, rabu tematik, nanti kalau ditanya orang tua, “Dek pelajaran besok apa? Tematiiiiiik Bu.. Opo kuwi Dek tematik?” Buku Tematik, Tugas Tematik.” Sosialisasi tidak hanya untuk guru dan peserta didik, tetapi orangtua harus, bukan bukan, maksud saya PERLU!
          Guru juga tidak perlu bersusah payah membuat silabus, pendapat yang menyatakan ada guru yang tidak dapat membuat silabus menurut saya kurang tepat, tiap perwakilan terbaik dari sekolah pasti telah mengikuti semacam pelatihan pembuatan silabus pada saat sebelum kurikulum lama diluncurkan. Selain itu guru juga dapat mencari referensi dari dan ke berbagai pihak. Lantas kalau kurikulum itu membuat semua perangkatnya belum sempurna mengapa tidak disempurnakan?
Kurikulum lama belum dievaluasi, mengapa yang baru sudah digemborkan untuk dilaksanakan? Apakah anak tidak cenderung bosan mendapatkan satu buku tiap hari dalam tasnya? Terlebih anak sekolah dasar..apa jadinya nanti ? ya… kita tunggu saja. .
Salam, utut .
 artikel diambil dari banyak sumber dan kutipan.

daftar pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar